Mandiri Setia dengan Dividen 50%

Mandiri Setia dengan Dividen 50%
Angga Aliya ZRF – detikFinance


Foto: Dadan K/detikFinance

Jakarta – PT Bank Mandiri Tbk akan tetap mempertahankan rasio pemberian dividen sebesar 50 persen dari laba bersihnya. Sementara dividen khusus hingga kini belum diputuskan.

Demikian disampaikan Dirut Mandiri Agus Martowardojo di sela-sela peluncuran e-toll card di Plaza Mandiri, Jakarta, Jumat (31/1/2009).

“Kelihatannya pola yang kita ada kebijakannya adalah pembayaran dividen di kisaran 50 persen. Kalau saat lalu itu spesial dividen itu kan sifatnya tidak rutin, yang ingin kita jaga dan memperoleh persetujuan pemegang saham adalah pembayaran di kisaran 50 persen,” urai Agus.

Di tempat yang sama, Menneg BUMN Sofyan Djalil mengatakan bahwa dividen BUMN memang sebagian akan diturunkan dibawah 50%. Menurut Sofyan, yang paling penting dari dividen bukan lah persentasenya, tapi jumlahnya.

“Yang penting jumlahnya kan. Kalau misalnya jumlahnya disepakati, nanti kita distribusikan berapa dan ambil dari mana,” ujarnya.

Bahkan sejumlah BUMN kemungkinan tidak akan dipungut dividen, misalnya Jamsostek. Namun ada pula BUMN yang akan dimintakan dividen khusus.

“Ada yang di bawah (50%), ada yang diatas. Nanti kita lihat satu per satu,” katanya.

Yang pasti, setoran dividen BUMN itu akan dilihat berdasarkan tingkat keuntungan, kebutuhan pendanaan BUMN bersangkutan dan juga kebutuhan APBN.

Kinerja Mandiri

Agus juga menyatakan, sejauh ini kinerja Mandiri cukup baik, sehingga bank BUMN terbesar itu tidak ada niatan untuk menerbitkan subdebt dalam rangka meningkatkan rasio kecukupan modal atau CAR.

“Itu tidak perlu subdebt karena kita masih punya permodalan kira2 16-17 persen. Jadi kalau seandainya kita lihat kebutuhan baru akan kita keluarkan,” katanya.

Selain itu, Mandiri juga memiliki Dana Pihak Ketiga (DPK) valas yang akan cukup untuk mendukung pinjaman valasnya. Per Desember 2008, LDR valas Mandiri mencapai 80% atau turun dibandingkan posisi per tahun 2007 yang sebesar 125%.

“Sekarang ini posisi dana lebih sekitar US$ 1,6 miliar. Jadi kita punya dana valas likuid, jadi kalau ada kebutuhan pendanaan ataupun pelunasan tentu kita dalam posisi melunasi itu. Tapi kita harus hati-hati,” katanya.

“Kalau seandainya ada pinjaman luar negeri valas tentu sekarang kalau bisa diperpanjang akan diperpanjang tapi seandainya terlalu mahal kita akan lunasi,” imbuh Agus.

Mandiri juga menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 16 persen di tahun 2009. Angka itu berarti revisi dari target sebelumnya.

“Untuk pertumbuhan kredit 2009, waktu budgeting awalnya 22-24 persen, terus turun ke 15-16 persen. Angka finalnya 16 persen,” ungkapnya.

Menurutnya, Mandiri melakukan revisi target pertumbuhan kredit setelah mendengar rencana IMF untuk menurunkan tingkat pertumbuhan ekonomi dunia.

“Ini membuat semua orang takut. Posisi 16 persen ini yang kita yakin berada di posisi yang wajar,” kata Agus.

(ang/qom)


About this entry